Pemberantasan

Pencegahan & Pemberdayaan Masyarakat

Terkini







Rabu, 8 Mei 2019

BNNK Deli Serdang Bersama Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Pemerintah Kab. Deli Serdang Adakan Sosialisasi P4GN kepada Masyarakat Desa Rantau Panjang Pantai Labu






Kamis, 20 Februari 2020

KRATOM, DAUN AJAIB KONTROVERSIAL

 Kratom yang dikenal dengan nama ilmiah Mitragyna speciosa berasal, dari famili Rubiaceae. Merupakan tanaman asli Asia Tenggara, meliputi Thailand, Myanmar, Malaysia, Indonesia, dan Papua Nugini, Kratom telah lama digunakan dalam obat-obatan tradisional, tepatnya sejak abad ke-19. Tanaman yang tingginya bisa mencapai 25 meter ini, biasanya tumbuh dengan baik di daerah aliran sungai. Ciri khasnya adalah daunnya seperti berlapis lilin sehingga terlihat mengkilap. Daunnya berwarna hijau tua dan dapat tumbuh hingga panjang dari 14-20 cm dan lebar 7-12 cm. Tulang daunnya berwarna kemerahan. Tumbuhan yang juga dikenal dengan sebutan purik atau ketum juga ini memiliki bunga berbentuk bulat bergerigi.Di Indonesia sendiri, Tanaman kratom banyak diproduksi di Kalimantan, tanaman ini menjadi komoditas ekspor besar dengan Amerika Serikat sebagai konsumen utama. Namun kurangnya uji klinis membuat banyak pihak mulai meragukan manfaatnya. Umumnya tumbuhan yang juga dikenal dengan sebutan “daun ajaib” dari Kalimantan ini dikeringkan sebelum dijadikan serbuk seperti bubuk teh. Serbuk itu kemudian diseduh dengan air panas dan dinikmati layaknya minum teh. Sensasi relaksasi yang muncul akibat penggunaan kratom terjadi karena kandungan aktif dalam kratom, yakni mitragynine dan 7-hydroxymitragynine, yang mengikat pada opioid receptors dalam tubuh manusia.Peneliti mengungkap kratom bisa menjadi tanaman medis rekreasi. Konsumsi dalam dosis rendah, kratom bisa berperan sebagai stimulan serta membantu meningkatkan fokus. Namun penggunaan dosis tinggi, kratom bisa menjadi obat penenang yang menghasilkan efek anti-nyeri layaknya candu. Kratom sama ampuhnya seperti morfin dalam hal menghilangkan rasa nyeri. (CNN, 26/12/2016)Kratom Bukan NarkotikaSebelumnya, Deputi Rehabilitasi BNN, Yunis Farida Oktoris, mengatakan pihaknya telah meminta Kementerian Kesehatan sebagai pihak yang berwenang menurut UU Nomor 35 Tahun 2009 agar memasukkan daun kratom sebagai narkotika golongan I. (Kumparan,25/7/2019)Badan Narkotika Nasional (BNN) mengeluarkan kebijakan daun kratom dilarang total untuk digunakan dalam suplemen makanan ataupun obat tradisional mulai tahun 2022 mendatang. Tanaman kratom menurut BNN masuk dalam narkotika golongan I. Hal tersebut ditetapkan oleh Komite Nasional Perubahan Narkotika dan Psikotropika tahun 2017 silam.Di AS, kratom legal di 43 negara bagian, tetapi FDA (Badan Pengawasan Obat dan Makanan AS) mendorong pembatasan yang lebih besar dan telah memberlakukan peringatan impor, yang berarti pengiriman yang memasuki AS dapat disita. Pada Agustus 2016, Badan Antinarkotik AS (DEA) memasukkan kratom dalam daftar tanaman (bersubstansi) yang diawasi. Mereka mewaspadai penggunaan kratom yang menjadi tren di sejumlah kalangan, terutama anak muda “Menurut situs informasi kratom Eropa, kratominfo.eu, kratom saat ini tidak berada di bawah Undang-undang Narkotika (Betäubungsmittelgesetz) Jerman, namun di bawah Undang-undang Obat (Arzneimittelgesetz). Ini berarti, kratom tidak boleh dijual untuk dikonsumsi manusia, melainkan hanya sebagai produk pewarna atau dupa.”Setelah cukup lama menjadi perdebatan perihal manfaat daun kratom. Akhirnya status abu-abu daun ajaib ini terjawab melalui Permenkes Nomor 44 Tahun 2019, mengenai perubahan penggolongan narkotika. Secara tegas dikatakan bahwa kratom tidak termasuk narkotika. Dan penggunaannya dikalangan masyarakat baik sebagai obat maupun komoditas ekspor dalam bidang ekonomi dilegalkan. (ns)


Jumat, 14 Februari 2020

Bola Karet Menjadi Modus Terbaru Pengedar Narkoba

Semakin meningkatnya peredaran narkoba dan obat-obatan terlarang di Indonesia, saat ini sudah mencapai taraf yang sangat mengkhawatirkan. Tak terhitung lagi banyaknya jumlah korban yang jatuh, terutama di kalangan anak-anak muda. Invasi barang haram tersebut, begitu masif, menerobos semua kalangan. Mulai dari tukang becak, hingga pejabat elit, tak berkutik dengan kenikmatan sesaat yang membunuh seseorang secara perlahan tersebut.Tingkat penyebaran narkoba yang begitu pesat di Indonesia, tentu sangat menarik untuk diketahui. Terlebih, ada banyak cara-cara unik dari para Bandar narkoba tersebut untuk meloloskan dan mengedarkannya.Sabu cair yang dikemas menjadi mainan anak-anak, menjadi modus baru yang sedang ramai diperbincangkan. Modus baru dalam penyelundupan narkoba yakni diungkap oleh Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya, Selasa (4/2/2020).Dalam unggahan akun Instagram Humas Polda Metro Jaya @humas.pmj, petugas Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Metro Jaya, Nunky, menyampaikan modus penyelundupan tersebut.Narkoba berjenis sabu cair disamarkan dalam bentuk mainan berbentuk bola karet yang berbentuk seperti jelly. Apabila bola karet mainan tersebut dipegang kemudian ditepuk-tepuk, bola karet tersebut bisa menyala warna-warni.Kemudian Nunky menganalisa isi dari bola karet tersebut menggunakan alat pemindai, ternyata isinya adalah Methampetamin atau sabu-sabu."Banyak modus yang digunakan oleh para pengedar narkoba untuk menyelundupkan ke Indonesia," ujarnya."Ini kiriman dari Malaysia, dikamuflasekan mainan anak, dalamnya air, gel," jelas Nunky.Berawal pada hari Rabu tanggal 29 Januari 2020, Polda Metro Jaya  dapat informasi dari Bea Cukai bahwa akan ada pengiriman paket control delivery dari Malaysia ke satu kantor pos di Cianjur yang diduga berisi narkotika berbentuk cair, yang dikemas di dalam mainan anak berbentuk bola dengan nomor paket EE 055 229 067 MY. Setelah di test laboratorium terhadap zat cair tersebut ternyata mengandung methampetamin (sabu) dengan berat bruto 1.962 gram.Di zaman yang serba canggih seperti saat ini, para pengedar narkoba semakin kreatif untuk “berdagang” narkoba kepada generasi muda bangsa ini. Hal ini bisa menjadi sebuah “pekerjaan rumah” yang besar, terutama bagi petugas hukum dan masyarakat terutama para orang tua agar lebih waspada terhadap modus-modus yang mereka lancarkan.


Jumat, 31 Januari 2020

Menyoal Isu Ekspor Ganja

Wacana legalisasi ganja sebagai komoditas ekspor penyumbang devisa Negara menjadi isu hangat yang sedang ramai diperbincangkan. Tak pelak sebagai Lembaga Negara yang bertugas dan memiliki kewenangan BNN juga menyoroti pernyataan-pernyataan yang muncul menyoal isu ekspor ganja tersebut."Menolak dengan tegas dan keras," kata Kepala Biro Humas dan Protokol BNN Sulistyo Pudjo Hartono dikutip dari CNNIndonesia.com, Jumat (31/1).Pernyataan itu kembali ditegaskan oleh Deputi Pemberantasan BNN RI, Irjen Arman Depari. Menurutnya wacana legalisasi ganja tak masuk akal untuk direalisasikan mengingat dampak buruk yang bisa ditimbulkan oleh penyalahgunaan narkotika jenis ganja.“Ganja adalah narkotika jika disalahgunakan dapat merusak kesehatan secara permanen dan menimbulkan ketergantungan," ujar Arman.Sebagai tambahan, sampai saat ini juga belum ada satu pun pembuktian dari penelitian medis bahwa ganja dapat menyembuhkan penyakit tertentu. Apalagi sambung dia, obat asma sangat banyak dan cukup tersedia, sehingga tidak diperlukan obat-obat lain sebagai alternatif.“Dalam Konvensi Tunggal PBB Tentang Narkotika 1961 atau United Nation of Single Convention on Drug 1961 disebut bahwa ganja termasuk dalam narkotika”Ucapan Deputi Pemberantasan dan Kepala Biro Humas dan Protokol BNN bukan tanpa alasan yang kuat. UU Narkotika Nomor 35 Tahun 2009 sebagai paying hokum narkotika secara tegas menentang legalisasi ekspor ganja.Pasal 8 menegaskan ganja termasuk dalam daftar golongan narkotika golongan I, yang dilarang digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan. Dalam jumlah terbatas, Narkotika Golongan I dapat digunakan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan untuk reagensia diagnostik, serta reagensia laboratorium setelah mendapatkan persetujuan Menteri atas rekomendasi Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan.Lebih jauh dijelaskan dalam Pasal 113 bahwa Setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum memproduksi, mengimpor, mengekspor, atau menyalurkan Narkotika Golongan I, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah). Adapun pada ayat 2 disebutkan, Dalam hal perbuatan memproduksi, mengimpor, mengekspor, atau menyalurkan Narkotika Golongan I sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam bentuk tanaman beratnya melebihi 1 (satu) kilogram atau melebihi 5 (lima) batang pohon atau dalam bentuk bukan tanaman beratnya melebihi 5 (lima) gram, pelaku dipidana dengan pidana mati, pidana penjara seumur hidup, atau pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambah 1/3 (sepertiga).Jadi masih mau coba berbisnis ekspor ganja?


Kamis, 30 Januari 2020

Budayakan Literasi kepada Anak, Bukan Gawai

Perkembangan teknologi digital dalam beberapa tahun terakhir begitu memengaruhi pola kehidupan manusia. Kehadiran gawai atau lebih dikenal dengan sebutan gadget beserta segala macam peranti canggih yang tertanam di dalamnya membawa manusia masuk ke peradaban baru.Di satu sisi, dampak positif gawai memang luar biasa. Ga[embed]https://www.youtube.com/watch?v=yTmNvU4L4uo[/embed]wai adalah dunia kecil yang bisa membawa seseorang ke pintu mana saja. Informasi apapun yang dibutuhkan dengan mudah bisa dicari dengan bantuan mesin pencarian seperti Google.Namun di sisi lain, pengguna gawai terutama anak-anak belum memiliki kesadaran berpikir mengenai baik-buruknya. Mereka tidak memakainya untuk menggali ilmu pengetahuan yang bermanfaat melainkan sekadar kesenangan belaka bahkan untuk hal-hal negatif seperti pornografi. Celakanya mereka jadi ketagihan layaknya kecanduan narkoba.Masalah timbul ketika si anak sudah mulai kerajingan. Tanpa memandang waktu dan tempat ia selalu meminta gawai kepada orang tuanya. Jika tidak diberi maka si anak akan terus merengek bahkan menangis meraung-raung.Sebagian besar orang tua justru tidak tega melihat anaknya terus-menerus menangis. Hatinya luluh dan menyerahkan gawainya kepada si anak. Tanpa disadari, si anak tumbuh menjadi pribadi apatis, manja dan keras kepala. Akhirnya orang tua tak bisa lagi mengendalikan kelakuan si anak. Mereka hanya bisa mengeluh tanpa bisa menyelesaikan akar permasalahannya.Kehadiran gawai memang telah mengubah kebiasaan kalangan anak-anak. Anak-anak zaman dahulu yang belum mengenal gawai mengisi hari-harinya dengan bermain di luar rumah atau juga membaca buku cerita. Anak zaman dulu harus dipaksa agar mau pulang ke rumah, sebaliknya anak ‘zaman now’ bersikeras tidak mau ke luar rumah karena sibuk dengan gawainya.Masa tumbuh-kembang anak memang sebaiknya perlu diisi dengan edukasi sebagai modal masa depan. Menurut psikolog anak Desni Yuniarni, 80% otak anak berkembang pada periode yang disebut dengan golden age, atau masa-masa keemasan yaitu usia nol hingga lima tahun. Pada masa-masa tersebut, peran orangtua sangat dibutuhkan dalam mengawasi tumbuh dan berkembangnya otak anak. (Kompas.com,20/12/2018)Idealnya pada fase ini orang tua fokus menempa karakter si anak dengan metode terbaik. Salah satu pilihannya adalah menjauhkan anak dari terpaan gawai semaksimal mungkin. Tanpa berinteraksi dengan gawai pun tumbuh-kembang mereka tidak akan terganggu.Mereka tidak akan tertinggal dibandingkan dengan anak-anak lain. Kemungkinan buruknya memang bisa muncul perundungan atau pengucilan dari teman-teman sebayanya karena dianggap tidak bisa beradaptasi. Namun jika mental si anak kuat, ia akan mampu menghadapinya.Pola AsuhDetik demi detik kebersamaan orang tua dan anak adalah proses pembelajaran yang berkelanjutan. Orang tua berperan sebagai kreator yang membentuk kepribadian anak. Pada tahap itu si anak seperti kertas kosong yang belum ada coretan apapun di atasnya.Skenario orang tua tentu saja menginginkan anaknya kelak menjadi sosok yang bisa dibanggakan. Untuk mencapai hal itu butuh proses panjang dan intervensi berkelanjutan. Kepribadian anak tak terbentuk begitu saja dengan sendirinya secara alamiah. Tentunya didikan orang tua juga memiliki pengaruh sangat kuat.Menurut Baumrind dalam Shaffer (2008), ada empat jenis pola asuh. Pertama, pola asuh otoriter yakni orang tua mendominasi dan memiliki kontrol yang besar pada anak. Kedua, pola asuh permisif dimana ciri utamanya adalah orang tua menunjukkan sikap permisif atau serba boleh dan tidak banyak menuntut. Ketiga,  pola asuh abai yaitu orang tua tidak banyak berperan dalam mengasuh anak. Keempat, pola asuh otoritatif dimana orang tua menganggap penting alasan di balik sikap atau perilaku anak sehingga mereka bersikap demokratis.Pola asuh otoritatif merupakan pola asuh yang paling tepat untuk digunakan orang tua. Pola asuh ini memberi pengaruh pada kebiasaan membaca anak karena orang tua tidak memaksakan kehendaknya kepada anak. Orang tua justru mendorong anak untuk melakukan suatu hal yang diharapkan dengan memberi pertimbangan yang rasional. Dengan penerapan pola asuh otoritatif ini orang tua dapat menumbuhkan kebiasaan membaca sejak dini pada anakPraktik literasi sudah perlu mulai ditanamkan kepada anak ketika dia sudah mulai mengekspresikan bahasa. Hal itu berguna untuk membangun imajinasi dan kreativitas mereka. Dengan begitu, wawasan anak menjadi terbuka terhadap sesuatu yang baru.Literasi sejak dini akan membantu anak berpikir kritis dan logis dalam menyikapi informasi. Apalagi pada era sekarang ini sebaran informasi yang begitu liar ditambah maraknya semburan berita hoax. Mereka jadi lebih terlatih untuk memilah-milah mana informasi benar-salah dan bermanfaat-tidak penting.Proses pendidikan literasi kepada anak tak selalu harus melalui lembaga pendidikan. Orang tua bisa mengemasnya ke dalam aktivitas sehari-hari layaknya mereka sedang bermain. Untuk anak pra-sekolah misalnya, salah satu pengenalan literasi yang bisa dilakukan adalah dengan membacakan dongeng.Mendongeng tak sekadar membacakan sebuah alur cerita, juga membangun relasi keintiman antara orang tua dengan anak. Setidaknya ada enam manfaat mendongeng bagi tumbuh-kembang anak. Manfaat itu antara lain untuk perkembangan kognitif, perkembangan sosial dan emosional, mempererat ikatan anak dan orang tua, mengembangkan daya imajinasi, meningkatkan keterampilan berbahasa dan meningkatkan minat baca. (Kompas.com, 17/06/2018)Dongeng merangsang imajinasi anak untuk berpikir kreatif. Kita tidak akan pernah bisa membatasi imajinasi mereka. Jika bisa dikelola dan diarahkan dengan baik tentunya hal ini akan menjadi modal yang luar biasa bagi si anak kelak.(Video di bawah ini adalah contoh dongeng menggunakan wayang kertas.)Pengenalan literasi lainnya yang efektif kepada anak adalah dengan acara orang tua berperan sebagai role model. Umumnya anak menganggap orang tua sebagai idolanya. Dalam konteks literasi, anak akan meniru apa yang dilakukan orang tuanya baik itu perilaku baik ataupun buruk. Kebiasaan orang tua, baik bapak maupun ibu yang rajin membaca tentu akan menjadi perhatian si anak. Ketertarikan mereka akan muncul ketika melihat orang tuanya sangat enjoy saat membaca buku.Meski belum terlalu paham apa yang dibacanya namun minat si anak bakal muncul perlahan. Suasana di rumah akan menjadi sangat menyenangkan bila hal itu bisa dicapai. Hal itu juga sekaligus mencegah anak terlibat perbagulan tidak sehat di luar rumah. Apalagi jika di dalam keluarga ada lagi figur lain seperti kakak yang juga gemar membaca. Otomatis minat si anak untuk ingin tahu lebih jauh akan semakin menggebu.Belajar SosialDalam tataran yang lebih luas, dukungan masyarakat juga memiliki pengaruh yang besar untuk mengembangkan minat literasi anak. Misi para orang tua ini tak akan berjalan dengan baik jika kondisi lingkungannya tidak mendukung.Menurut teori belajar sosial Bandura (1977), manusia mempelajari sesuatu dengan cara meniru perilaku orang lain. Teori belajar sosial menjelaskan perilaku manusia dalam hal interaksi timbal balik yang berkesinambungan antara kognitif, perilaku, dan pengaruh lingkungan. Seserang belajar melalui pengamatan perilaku orang lain, sikap, dan hasil dari perilaku tersebut.Jika mereka tumbuh di lingkungan yang rawan kriminalitas maka mereka berpotensi tumbuh menjadi anak yang berperangai keras. Bahkan ada kecenderungan juga mereka jadi ikut-ikutan dengan pola pergaulan anak di sekitarnya.Begitu juga dalam kultur masyarakat yang angka putus sekolahnya cukup tinggi, motivasi anak di daerah itu untuk bersekolah sangat rendah. Motivasi mereka rendah karena tak ada panutan yang memberikan contoh positif.Lain halnya dengan suatu lingkungan yang suasananya nyaman untuk belajar anak. Dalam lingkungan seperti itu motivasi anak untuk belajar cenderung tinggi bahkan bermunculan kelompok-kelompok belajar bersama.Di sinilah peran penting masyarakat dalam membudayakan literasi. Aparatur desa dan tokoh masyarakat bisa membuat inisiatif untuk perubahan. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan, baik secara formal maupun non formal.Secara formal misalnya adalah dukungan pemerintah desa melalui penyusunan kebijakan tentang jam belajar masyarakat. Pemberlakuan jam belajar akan memberikan edukasi kepada anak-anak tentang nilai-nilai kedisiplinan. Saat jam belajar mereka tidak diperbolehkan lagi berkeliaran di luar rumah yang berpotensi menimbulkan ekses negatif.Cara lainnya adalah melalui pembuatan kebijakan anggaran Taman Bacaan Anak atau perpustakaan. Sumber anggarannya bisa menggunakan dana desa yang saat ini sedang digencarkan pemerintah. Tak sekadar menyediakan materi buku, juga perlu dibuat klasifikasi buku menurut tingkatan umur anak.Tidak kalah penting, konsep perpustakaan atau taman bacaan tidak dibuat monoton ataupun hanya mengikuti selera orang dewasa. Untuk itu perpustakaan sebaiknya tidak dibuat sunyi seperti kuburan. Hal itu tidak akan menarik perhatian anak-anak. Tempat tersebut harus menjadi spot belajar dan bermain dengan warna-warni ceria.Adapun literasi secara non formal bisa dilakukan dengan kearifan lokal yang berlaku di suatu daerah. Salah satu upaya suportif yang bisa diterapkan dalam suatu lingkungan masyarakat adalah memberikan reward kepada anak-anak yang berprestasi.Ada banyak momentum yang bisa diambil dalam menumbuhkan jiwa kompetitif di kalangan anak-anak. Perayaan hari besar kenegaraan atau keagamaan misalnya, bisa dimeriahkan dengan lomba baca puisi, pidato ataupun lomba karya tulis.Di sisi lain perlu juga diterapkan sanksi sosial kepada orang tua yang anaknya terlibat dalam kriminalitas maupun penyimpangan-penyimpangan di masyarakat. Sanksi sosial itu akan menjadi warning bagi anak-anak lainnya untuk tidak melakukan sesuatu yang buruk di masyarakat.Pendidikan literasi memberikan pada akhirnya akan memberikan dampak positif pada prestasi akademik anak. Pola komunikasi dan adaptasinya akan lebih baik dibandingkan dengan anak yang lain. Mereka memiliki kemampuan memecahkan masalah-masalah logis.Hanya saja, kendala utama memperkenalkan literasi sejak dini kepada anak adalah tak semua orang tua paham manfaatnya. Sebagian di antaranya justru tidak memiliki waktu khusus untuk hal itu.Akhirnya, semua kembali kepada kemauan orang tua untuk membentuk karakter dan mengarahkan si anak. Jika hanya pasrah dan ikut-ikutan tenggelam oleh dampak buruk penggunaan teknologi, si anak akan terkena imbasnya di kemudian hari.Sebaliknya jika orang tua peduli dengan tumbuh-kembang anak sejak dini, mereka bisa membentuknya secara terencana. Untuk itu semua orang tua harus memberi contoh model literasi yang baik kepada anak-anaknya dengan pola asuh yang tepat. 


Rabu, 29 Januari 2020

BNNK Deli Serdang tetapkan 5 pilot project Desa Bersinar

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) RI Komjen Pol Heru Winarko mendeklarasikan 22 desa/kelurahan di Sumut, sebagai pilot project Desa Bersih Narkoba (Bersinar), di Jalan Klambir V, Kelurahan Lalang, Kecamatan Medan Sunggal, pada 19 Agustus 2019 lalu. Sebanyak 5 desa di antaranya berada di Kabupaten Deli Serdang.Semakin maraknya penyalahgunaan Narkoba memang menjadi permasalahan serius yang sedang dihadapi pemerintah. “Bersinergilah, bersama kita pasti bisa”, mungkin ungkapan itu adalah ungkapan yang paling tepat untuk mengajak seluruh lapisan masyarakat bekerja sama dalam pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan narkoba di Indonesia.“BNN bersama Polri, TNI, Bea Cukai, Imigrasi, Pemerintah Daerah dan instansi terkait lainnya serta seluruh komponen masyarakat harus mampu bersinergi dan bersama-sama mengambil langkah strategis dalam upaya P4GN”Wujudkan Deli Serdang bersih narkoba merupakan tujuan bersama yang mulai digarap BNN Kabupaten Deli bersama Pemerintah Daerah Kabupaten Deli Serdang. Berbagai upaya preventif mulai digalakkan. Sosialisasi melalui berbagai media diseminasi informasi hingga ke pelosok desa pun tak pernah berhenti digaungkan.Narkoba masuk DesaMeski tingkat peredaran turun sekitar 0,6 %, Indonesia masih dianggap sebagai pasar potensial peredaran narkoba. Data BNN menunjukkan dari 250 juta penduduk Indonesia, pada tahun 2018 jumlah penyalah guna mencapai 4,53 juta jiwa (2,40 %). Setahun berikutnya angka tersebut turun  menjadi 3,41 juta jiwa (1,80 %). Alhasil, hampir sekitar satu juta jiwa penduduk Indonesia diselamatkan dari pengaruh narkotika.Mulai sasar pelosok desa, peredaran narkoba perlu peran Bhabinkamtibmas, Babinsa juga Kepala Desa yang harus lebih dimaksimalkan, tak kalah penting partisipasi masyarakat juga dirasa sangat dibutuhkan. Desa Rantau Panjang, Desa Dagang Kerawan, Desa Bandar Labuhan, Desa Kutalimbaru, dan Desa Punden Rejo yang digadang menjadi pilot project Desa Bersih Narkoba (Bersinar) tak tinggal diam. Laksanakan sosialiasi, bentuk relawan dan tes urine tunjukkan keseriusan desa-desa tersebut sebagai andil dalam program P4GN.Disamping itu, melalui program pemberdayaan alternatif, BNNK Deli Serdang juga bina desa yang dianggap menjadi kawasan rawan narkoba melalui bimbingan teknis life skill yang dipusatkan di Desa Rantau Panjang, Kecamatan Pantai Labu pada Tahun 2019 lalu. Adapun fokus program ini adalah peternakan domba modern. Output yang diharapkan dari program ini diharapkan masyarakat yang berada di kawasan rawan narkoba atau yang bahkan mengandalkan narkoba sebagai sumber mata pencaharian dan perekonomian keluarga dapat beralih profesi. Sehingga secara khusus,  dapat meningkatkan ketahanan keluarga. “Program Desa Bersinar merupakan Satuan wilayah setingkat Kelurahan / Desa yang memiliki kriteria tertentu dimana terdapat pelaksanaan program P4GN yang dilaksanakan secara massif”Adapun tujuannya menciptakan kondisi aman dan tertib bagi masyarakat desa sehingga masyarakat desa bersih dari penyalahgunaan narkoba. Harapannya, desa-desa di Kabupaten Deli Serdang dapat secara mandiri mencanangkan diri sebagai Desa bersinar. (ln)


Rabu, 29 Januari 2020

BNNK Deli Serdang tetapkan 5 pilot project Desa Bersinar

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) RI Komjen Pol Heru Winarko mendeklarasikan 22 desa/kelurahan di Sumut, sebagai pilot project Desa Bersih Narkoba (Bersinar), di Jalan Klambir V, Kelurahan Lalang, Kecamatan Medan Sunggal, pada 19 Agustus 2019 lalu. Sebanyak 5 desa di antaranya berada di Kabupaten Deli Serdang.Semakin maraknya penyalahgunaan Narkoba memang menjadi permasalahan serius yang sedang dihadapi pemerintah. “Bersinergilah, bersama kita pasti bisa”, mungkin ungkapan itu adalah ungkapan yang paling tepat untuk mengajak seluruh lapisan masyarakat bekerja sama dalam pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan narkoba di Indonesia.“BNN bersama Polri, TNI, Bea Cukai, Imigrasi, Pemerintah Daerah dan instansi terkait lainnya serta seluruh komponen masyarakat harus mampu bersinergi dan bersama-sama mengambil langkah strategis dalam upaya P4GN”Wujudkan Deli Serdang bersih narkoba merupakan tujuan bersama yang mulai digarap BNN Kabupaten Deli bersama Pemerintah Daerah Kabupaten Deli Serdang. Berbagai upaya preventif mulai digalakkan. Sosialisasi melalui berbagai media diseminasi informasi hingga ke pelosok desa pun tak pernah berhenti digaungkan.Narkoba masuk DesaMeski tingkat peredaran turun sekitar 0,6 %, Indonesia masih dianggap sebagai pasar potensial peredaran narkoba. Data BNN menunjukkan dari 250 juta penduduk Indonesia, pada tahun 2018 jumlah penyalah guna mencapai 4,53 juta jiwa (2,40 %). Setahun berikutnya angka tersebut turun  menjadi 3,41 juta jiwa (1,80 %). Alhasil, hampir sekitar satu juta jiwa penduduk Indonesia diselamatkan dari pengaruh narkotika.Mulai sasar pelosok desa, peredaran narkoba perlu peran Bhabinkamtibmas, Babinsa juga Kepala Desa yang harus lebih dimaksimalkan, tak kalah penting partisipasi masyarakat juga dirasa sangat dibutuhkan. Desa Rantau Panjang, Desa Dagang Kerawan, Desa Bandar Labuhan, Desa Kutalimbaru, dan Desa Punden Rejo yang digadang menjadi pilot project Desa Bersih Narkoba (Bersinar) tak tinggal diam. Laksanakan sosialiasi, bentuk relawan dan tes urine tunjukkan keseriusan desa-desa tersebut sebagai andil dalam program P4GN.Disamping itu, melalui program pemberdayaan alternatif, BNNK Deli Serdang juga bina desa yang dianggap menjadi kawasan rawan narkoba melalui bimbingan teknis life skill yang dipusatkan di Desa Rantau Panjang, Kecamatan Pantai Labu pada Tahun 2019 lalu. Adapun fokus program ini adalah peternakan domba modern. Output yang diharapkan dari program ini diharapkan masyarakat yang berada di kawasan rawan narkoba atau yang bahkan mengandalkan narkoba sebagai sumber mata pencaharian dan perekonomian keluarga dapat beralih profesi. Sehingga secara khusus,  dapat meningkatkan ketahanan keluarga. “Program Desa Bersinar merupakan Satuan wilayah setingkat Kelurahan / Desa yang memiliki kriteria tertentu dimana terdapat pelaksanaan program P4GN yang dilaksanakan secara massif”Adapun tujuannya menciptakan kondisi aman dan tertib bagi masyarakat desa sehingga masyarakat desa bersih dari penyalahgunaan narkoba. Harapannya, desa-desa di Kabupaten Deli Serdang dapat secara mandiri mencanangkan diri sebagai Desa bersinar. (ln)


Jumat, 31 Januari 2020

Menyoal Isu Ekspor Ganja

Wacana legalisasi ganja sebagai komoditas ekspor penyumbang devisa Negara menjadi isu hangat yang sedang ramai diperbincangkan. Tak pelak sebagai Lembaga Negara yang bertugas dan memiliki kewenangan BNN juga menyoroti pernyataan-pernyataan yang muncul menyoal isu ekspor ganja tersebut."Menolak dengan tegas dan keras," kata Kepala Biro Humas dan Protokol BNN Sulistyo Pudjo Hartono dikutip dari CNNIndonesia.com, Jumat (31/1).Pernyataan itu kembali ditegaskan oleh Deputi Pemberantasan BNN RI, Irjen Arman Depari. Menurutnya wacana legalisasi ganja tak masuk akal untuk direalisasikan mengingat dampak buruk yang bisa ditimbulkan oleh penyalahgunaan narkotika jenis ganja.“Ganja adalah narkotika jika disalahgunakan dapat merusak kesehatan secara permanen dan menimbulkan ketergantungan," ujar Arman.Sebagai tambahan, sampai saat ini juga belum ada satu pun pembuktian dari penelitian medis bahwa ganja dapat menyembuhkan penyakit tertentu. Apalagi sambung dia, obat asma sangat banyak dan cukup tersedia, sehingga tidak diperlukan obat-obat lain sebagai alternatif.“Dalam Konvensi Tunggal PBB Tentang Narkotika 1961 atau United Nation of Single Convention on Drug 1961 disebut bahwa ganja termasuk dalam narkotika”Ucapan Deputi Pemberantasan dan Kepala Biro Humas dan Protokol BNN bukan tanpa alasan yang kuat. UU Narkotika Nomor 35 Tahun 2009 sebagai paying hokum narkotika secara tegas menentang legalisasi ekspor ganja.Pasal 8 menegaskan ganja termasuk dalam daftar golongan narkotika golongan I, yang dilarang digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan. Dalam jumlah terbatas, Narkotika Golongan I dapat digunakan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan untuk reagensia diagnostik, serta reagensia laboratorium setelah mendapatkan persetujuan Menteri atas rekomendasi Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan.Lebih jauh dijelaskan dalam Pasal 113 bahwa Setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum memproduksi, mengimpor, mengekspor, atau menyalurkan Narkotika Golongan I, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah). Adapun pada ayat 2 disebutkan, Dalam hal perbuatan memproduksi, mengimpor, mengekspor, atau menyalurkan Narkotika Golongan I sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam bentuk tanaman beratnya melebihi 1 (satu) kilogram atau melebihi 5 (lima) batang pohon atau dalam bentuk bukan tanaman beratnya melebihi 5 (lima) gram, pelaku dipidana dengan pidana mati, pidana penjara seumur hidup, atau pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambah 1/3 (sepertiga).Jadi masih mau coba berbisnis ekspor ganja?


Kamis, 30 Januari 2020

Budayakan Literasi kepada Anak, Bukan Gawai

Perkembangan teknologi digital dalam beberapa tahun terakhir begitu memengaruhi pola kehidupan manusia. Kehadiran gawai atau lebih dikenal dengan sebutan gadget beserta segala macam peranti canggih yang tertanam di dalamnya membawa manusia masuk ke peradaban baru.Di satu sisi, dampak positif gawai memang luar biasa. Ga[embed]https://www.youtube.com/watch?v=yTmNvU4L4uo[/embed]wai adalah dunia kecil yang bisa membawa seseorang ke pintu mana saja. Informasi apapun yang dibutuhkan dengan mudah bisa dicari dengan bantuan mesin pencarian seperti Google.Namun di sisi lain, pengguna gawai terutama anak-anak belum memiliki kesadaran berpikir mengenai baik-buruknya. Mereka tidak memakainya untuk menggali ilmu pengetahuan yang bermanfaat melainkan sekadar kesenangan belaka bahkan untuk hal-hal negatif seperti pornografi. Celakanya mereka jadi ketagihan layaknya kecanduan narkoba.Masalah timbul ketika si anak sudah mulai kerajingan. Tanpa memandang waktu dan tempat ia selalu meminta gawai kepada orang tuanya. Jika tidak diberi maka si anak akan terus merengek bahkan menangis meraung-raung.Sebagian besar orang tua justru tidak tega melihat anaknya terus-menerus menangis. Hatinya luluh dan menyerahkan gawainya kepada si anak. Tanpa disadari, si anak tumbuh menjadi pribadi apatis, manja dan keras kepala. Akhirnya orang tua tak bisa lagi mengendalikan kelakuan si anak. Mereka hanya bisa mengeluh tanpa bisa menyelesaikan akar permasalahannya.Kehadiran gawai memang telah mengubah kebiasaan kalangan anak-anak. Anak-anak zaman dahulu yang belum mengenal gawai mengisi hari-harinya dengan bermain di luar rumah atau juga membaca buku cerita. Anak zaman dulu harus dipaksa agar mau pulang ke rumah, sebaliknya anak ‘zaman now’ bersikeras tidak mau ke luar rumah karena sibuk dengan gawainya.Masa tumbuh-kembang anak memang sebaiknya perlu diisi dengan edukasi sebagai modal masa depan. Menurut psikolog anak Desni Yuniarni, 80% otak anak berkembang pada periode yang disebut dengan golden age, atau masa-masa keemasan yaitu usia nol hingga lima tahun. Pada masa-masa tersebut, peran orangtua sangat dibutuhkan dalam mengawasi tumbuh dan berkembangnya otak anak. (Kompas.com,20/12/2018)Idealnya pada fase ini orang tua fokus menempa karakter si anak dengan metode terbaik. Salah satu pilihannya adalah menjauhkan anak dari terpaan gawai semaksimal mungkin. Tanpa berinteraksi dengan gawai pun tumbuh-kembang mereka tidak akan terganggu.Mereka tidak akan tertinggal dibandingkan dengan anak-anak lain. Kemungkinan buruknya memang bisa muncul perundungan atau pengucilan dari teman-teman sebayanya karena dianggap tidak bisa beradaptasi. Namun jika mental si anak kuat, ia akan mampu menghadapinya.Pola AsuhDetik demi detik kebersamaan orang tua dan anak adalah proses pembelajaran yang berkelanjutan. Orang tua berperan sebagai kreator yang membentuk kepribadian anak. Pada tahap itu si anak seperti kertas kosong yang belum ada coretan apapun di atasnya.Skenario orang tua tentu saja menginginkan anaknya kelak menjadi sosok yang bisa dibanggakan. Untuk mencapai hal itu butuh proses panjang dan intervensi berkelanjutan. Kepribadian anak tak terbentuk begitu saja dengan sendirinya secara alamiah. Tentunya didikan orang tua juga memiliki pengaruh sangat kuat.Menurut Baumrind dalam Shaffer (2008), ada empat jenis pola asuh. Pertama, pola asuh otoriter yakni orang tua mendominasi dan memiliki kontrol yang besar pada anak. Kedua, pola asuh permisif dimana ciri utamanya adalah orang tua menunjukkan sikap permisif atau serba boleh dan tidak banyak menuntut. Ketiga,  pola asuh abai yaitu orang tua tidak banyak berperan dalam mengasuh anak. Keempat, pola asuh otoritatif dimana orang tua menganggap penting alasan di balik sikap atau perilaku anak sehingga mereka bersikap demokratis.Pola asuh otoritatif merupakan pola asuh yang paling tepat untuk digunakan orang tua. Pola asuh ini memberi pengaruh pada kebiasaan membaca anak karena orang tua tidak memaksakan kehendaknya kepada anak. Orang tua justru mendorong anak untuk melakukan suatu hal yang diharapkan dengan memberi pertimbangan yang rasional. Dengan penerapan pola asuh otoritatif ini orang tua dapat menumbuhkan kebiasaan membaca sejak dini pada anakPraktik literasi sudah perlu mulai ditanamkan kepada anak ketika dia sudah mulai mengekspresikan bahasa. Hal itu berguna untuk membangun imajinasi dan kreativitas mereka. Dengan begitu, wawasan anak menjadi terbuka terhadap sesuatu yang baru.Literasi sejak dini akan membantu anak berpikir kritis dan logis dalam menyikapi informasi. Apalagi pada era sekarang ini sebaran informasi yang begitu liar ditambah maraknya semburan berita hoax. Mereka jadi lebih terlatih untuk memilah-milah mana informasi benar-salah dan bermanfaat-tidak penting.Proses pendidikan literasi kepada anak tak selalu harus melalui lembaga pendidikan. Orang tua bisa mengemasnya ke dalam aktivitas sehari-hari layaknya mereka sedang bermain. Untuk anak pra-sekolah misalnya, salah satu pengenalan literasi yang bisa dilakukan adalah dengan membacakan dongeng.Mendongeng tak sekadar membacakan sebuah alur cerita, juga membangun relasi keintiman antara orang tua dengan anak. Setidaknya ada enam manfaat mendongeng bagi tumbuh-kembang anak. Manfaat itu antara lain untuk perkembangan kognitif, perkembangan sosial dan emosional, mempererat ikatan anak dan orang tua, mengembangkan daya imajinasi, meningkatkan keterampilan berbahasa dan meningkatkan minat baca. (Kompas.com, 17/06/2018)Dongeng merangsang imajinasi anak untuk berpikir kreatif. Kita tidak akan pernah bisa membatasi imajinasi mereka. Jika bisa dikelola dan diarahkan dengan baik tentunya hal ini akan menjadi modal yang luar biasa bagi si anak kelak.(Video di bawah ini adalah contoh dongeng menggunakan wayang kertas.)Pengenalan literasi lainnya yang efektif kepada anak adalah dengan acara orang tua berperan sebagai role model. Umumnya anak menganggap orang tua sebagai idolanya. Dalam konteks literasi, anak akan meniru apa yang dilakukan orang tuanya baik itu perilaku baik ataupun buruk. Kebiasaan orang tua, baik bapak maupun ibu yang rajin membaca tentu akan menjadi perhatian si anak. Ketertarikan mereka akan muncul ketika melihat orang tuanya sangat enjoy saat membaca buku.Meski belum terlalu paham apa yang dibacanya namun minat si anak bakal muncul perlahan. Suasana di rumah akan menjadi sangat menyenangkan bila hal itu bisa dicapai. Hal itu juga sekaligus mencegah anak terlibat perbagulan tidak sehat di luar rumah. Apalagi jika di dalam keluarga ada lagi figur lain seperti kakak yang juga gemar membaca. Otomatis minat si anak untuk ingin tahu lebih jauh akan semakin menggebu.Belajar SosialDalam tataran yang lebih luas, dukungan masyarakat juga memiliki pengaruh yang besar untuk mengembangkan minat literasi anak. Misi para orang tua ini tak akan berjalan dengan baik jika kondisi lingkungannya tidak mendukung.Menurut teori belajar sosial Bandura (1977), manusia mempelajari sesuatu dengan cara meniru perilaku orang lain. Teori belajar sosial menjelaskan perilaku manusia dalam hal interaksi timbal balik yang berkesinambungan antara kognitif, perilaku, dan pengaruh lingkungan. Seserang belajar melalui pengamatan perilaku orang lain, sikap, dan hasil dari perilaku tersebut.Jika mereka tumbuh di lingkungan yang rawan kriminalitas maka mereka berpotensi tumbuh menjadi anak yang berperangai keras. Bahkan ada kecenderungan juga mereka jadi ikut-ikutan dengan pola pergaulan anak di sekitarnya.Begitu juga dalam kultur masyarakat yang angka putus sekolahnya cukup tinggi, motivasi anak di daerah itu untuk bersekolah sangat rendah. Motivasi mereka rendah karena tak ada panutan yang memberikan contoh positif.Lain halnya dengan suatu lingkungan yang suasananya nyaman untuk belajar anak. Dalam lingkungan seperti itu motivasi anak untuk belajar cenderung tinggi bahkan bermunculan kelompok-kelompok belajar bersama.Di sinilah peran penting masyarakat dalam membudayakan literasi. Aparatur desa dan tokoh masyarakat bisa membuat inisiatif untuk perubahan. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan, baik secara formal maupun non formal.Secara formal misalnya adalah dukungan pemerintah desa melalui penyusunan kebijakan tentang jam belajar masyarakat. Pemberlakuan jam belajar akan memberikan edukasi kepada anak-anak tentang nilai-nilai kedisiplinan. Saat jam belajar mereka tidak diperbolehkan lagi berkeliaran di luar rumah yang berpotensi menimbulkan ekses negatif.Cara lainnya adalah melalui pembuatan kebijakan anggaran Taman Bacaan Anak atau perpustakaan. Sumber anggarannya bisa menggunakan dana desa yang saat ini sedang digencarkan pemerintah. Tak sekadar menyediakan materi buku, juga perlu dibuat klasifikasi buku menurut tingkatan umur anak.Tidak kalah penting, konsep perpustakaan atau taman bacaan tidak dibuat monoton ataupun hanya mengikuti selera orang dewasa. Untuk itu perpustakaan sebaiknya tidak dibuat sunyi seperti kuburan. Hal itu tidak akan menarik perhatian anak-anak. Tempat tersebut harus menjadi spot belajar dan bermain dengan warna-warni ceria.Adapun literasi secara non formal bisa dilakukan dengan kearifan lokal yang berlaku di suatu daerah. Salah satu upaya suportif yang bisa diterapkan dalam suatu lingkungan masyarakat adalah memberikan reward kepada anak-anak yang berprestasi.Ada banyak momentum yang bisa diambil dalam menumbuhkan jiwa kompetitif di kalangan anak-anak. Perayaan hari besar kenegaraan atau keagamaan misalnya, bisa dimeriahkan dengan lomba baca puisi, pidato ataupun lomba karya tulis.Di sisi lain perlu juga diterapkan sanksi sosial kepada orang tua yang anaknya terlibat dalam kriminalitas maupun penyimpangan-penyimpangan di masyarakat. Sanksi sosial itu akan menjadi warning bagi anak-anak lainnya untuk tidak melakukan sesuatu yang buruk di masyarakat.Pendidikan literasi memberikan pada akhirnya akan memberikan dampak positif pada prestasi akademik anak. Pola komunikasi dan adaptasinya akan lebih baik dibandingkan dengan anak yang lain. Mereka memiliki kemampuan memecahkan masalah-masalah logis.Hanya saja, kendala utama memperkenalkan literasi sejak dini kepada anak adalah tak semua orang tua paham manfaatnya. Sebagian di antaranya justru tidak memiliki waktu khusus untuk hal itu.Akhirnya, semua kembali kepada kemauan orang tua untuk membentuk karakter dan mengarahkan si anak. Jika hanya pasrah dan ikut-ikutan tenggelam oleh dampak buruk penggunaan teknologi, si anak akan terkena imbasnya di kemudian hari.Sebaliknya jika orang tua peduli dengan tumbuh-kembang anak sejak dini, mereka bisa membentuknya secara terencana. Untuk itu semua orang tua harus memberi contoh model literasi yang baik kepada anak-anaknya dengan pola asuh yang tepat. 


Suara Masyarakat


DATA STATISTIK BNNP SUMATERA UTARA

0

Total Kasus Narkoba

0

Total Tersangka Kasus Narkoba

0

Total Pasien Penyalahgunaan

0

Jumlah Penggiat Anti Narkoba

0

Jumlah Sebaran Informasi

Tautan Terkait